Ya Allah mudahkanlah.
Ya Allah jangan jadikan diri kami sombong atas ilmu dan gelar kami.
Karena kami tahu ini hanyalah titipan-Mu.
Bantulah kami Ya Allah agar kami bisa mengemban amanah ini, menjaga titipan-Mu ini.
Pernah ada yang bilang, salah satu tanda persahabatan tingkat tinggi itu "mau direpotkan dan tidak sungkan untuk merepotkan."
Beberapa waktu yang lalu, saya betul-betul menyaksikannya. Persahabatan antara dua orang laki-laki yang sudah berusia kepala 5 yang dulunya sahabat saat mahasiswa. Satunya tak sungkan-sungkan untuk meminta bantuan (yang menurut saya itu merepotkan), yang satunya lagi menerima saja tanpa merasa direpotkan. Luar biasa memang Papa dan sahabatnya itu. Masya Allah.
Semoga kelak kita dan sahabat-sahabat kita bisa seperti itu ya :")
Teruslah beramal, karena kita tidak tahu amal mana yang dapat sampai kepada Allah dan dapat menolong kita di akhirat kelak.
Teruslah berbuat baik, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan menolong kita disaat kita sedang kesulitan.
Teruslah berdoa kepada Allah, karena Allah pasti akan menjawabnya... jika tidak sekarang, maka nanti, atau Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kita.
Sudah 9 bulan istirahat dari ngeblog. Kalau diibaratkan janin, ini sudah aterm, sebentar lagi lahir hehe.
Mudah-mudahan blogspot nggak ikut-ikutan kena blokir ya :')
Oh iya, sebentar lagi (Insya Allah 3 bulanan lagi) selesai sudah dunia percoassan yang penuh dengan cerita dan kenangan ini. Rasa-rasanya bingung, mau mulai cerita dari mana. Mungkin kalau diceritakan dari awal masuk coass sampai nanti jadi dokter, nggak cukup disini. Bahkan bisa jadi novel yang lumayan tebal!
Ternyata begini rasanya jadi coass end stage. Semangat mulai turun dan rasa jenuh kerap menghampiri. Kadang takut dan deg-degan membayangkan bagaimana nanti saat UKMPPD (singkatan dari Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter, semacam ujian nasional untuk calon dokter se-Indonesia) terlebih lagi bingung setelah lulus dokter dan selesai internship (internship = semacam praktik magang di RS dan Puskesmas, namun masih di bawah supervisi dan sudah mendapat gaji, program ini wajib sebagai syarat untuk mendapat STR yaitu Surat Tanda Registrasi agar bisa praktik) akan melanjutkan karir kemana.
Kalau kata murobbi kami, Bu A, "Sebenarnya banyak ladang kita berkarir sekaligus beramal di bidang kesehatan. Bahkan dokter itu kerja dimana pun Insya Allah bisa. Mau di desa, di antara desa-kota, ataupun di kota. Kalau bisa harus dipikirkan dan direncanakan mulai dari sekarang."
Nah, memikirkan dan merencanakannya itulah yang masih bingung. Padahal, sudah jalan stase ke-13, sisa 2 stase lagi! Kadang masih tidak percaya bisa sampai di titik ini. Padahal, jika mengingat-ingat masa preklinik (S1) dulu, rasanya ingin menyerah saja. Terutama di semester-semester awal, yang salah satu mata kuliahnya ingin membuat saya pindah jurusan!
Bismillah untuk tahap-tahap selanjutnya.. Mudah-mudahan Allah segera memberi petunjuk, kira-kira akan berkarir kemanakah diri ini~~ Aamiin..
Dulu, empat tahun yang lalu, aku hampir putus asa karena tidak diterima di kampus yang diinginkan melalui jalur undangan (sekarang SNMPTN).
Dulu, empat tahun yang lalu, aku benar-benar kecewa tidak bisa datang mengikuti tes SBMPTN.
Dulu, empat tahun yang lalu, tak pernah sama sekali terpikirkan olehku, bahwa aku dapat menempuh studi di kampus ini.
Aku sedih, kecewa, dan marah waktu itu. Mengapa harus sesulit ini jalan yang kutempuh?
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(Q.S. Al-Baqarah : 286)
***
Alhamdulillah, akhirnya Allah menjawab doaku. Ramadhan empat tahun yang lalu, aku dinyatakan lolos seleksi melalui jalur PSSB di kampus yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Ternyata Allah punya rencana lain yang lebih indah, dan tak disangka-sangka.
"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(Q.S. Al-Baqarah: 216)
***
Alhamdulillah, dua hari lagi menjelang wisuda, satu tahap sudah terlewati. Masih ada tahap-tahap selanjutnya. Ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan berikutnya. Perjuangan belum usai. Di depan, akan lebih banyak ujian yang harus dihadapi.
"Man saara 'alad-darby washala."
(Barangsiapa berjalan pada jalannya, maka sampailah ia).
Menginjak usia 20an ke atas ini, topik perbincangan yang paling sering dibahas saat kumpul-kumpul dengan teman satu angkatan tidak lain dan tidak bukan adalah masalah jodoh atau pernikahan.
Makin sering saya melihat teman-teman yang tersenyum, tersipu malu saat membahas tentang hal ini. Ada juga yang kelihatan semakin galau, semakin sering membuat status di media sosial tentang jodoh/pernikahan, eh ujung-ujungnya baper. Seolah tak sabar kapan hari bahagia itu datang.
Bagaimana dengan saya? Kalau saya sih, Alhamdulillah belum pernah posting masalah beginian di media sosial (dan baru kali ini saya posting di blog membahas ini). Karena saya juga bingung, apa yang harus digalaukan dan dibaperkan semasa kita 'menunggu'.
Ini ada sedikit tips (ala Sarah) agar kita tidak terlalu galau dan baper. Mungkin bisa dicoba :)
Pertama, jangan biarkan perasaan kita tumpah-ruah dibaca khalayak ramai di dunia maya. Curahkanlah semuanya hanya pada Allah, agar hati kita menjadi lebih tenang. Allah Maha Mengetahui segala isi hati kita, sekalipun kita tidak mampu merangkai kata-kata untuk berdoa. Karena kalau salah tempat mencurahkan (apalagi sesama teman yang baper) kan brabe.
Kedua, sibukkan diri kita dengan aktifitas positif untuk mengisi waktu luang agar tidak terlalu memikirkan hal-hal yang membuat galau dan baper.
Ketiga, kalau ada teman yang mulai memancing dengan obrolan perihal jodoh/pernikahan, jangan langsung baper. Mungkin teman kitalah sebenarnya yang baper, jangan sampai kita terbawa suasana hahaha :D Harusnya kita yang memberi masukan.
Keempat, terus perbaiki diri, terus belajar, terus persiapkan diri. Jangan sampai kita galau dan baper terus-terusan, tetapi kita tidak mau belajar ilmunya. Jangan sampai dari diri kita sendiri saja belum siap. Kalau tiba-tiba besok ada yang datang, gimana? Emang kita udah siap?
Kelima, terus berdoa kepada Allah dalam setiap sholat kita, "Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota'ayun waja'alnaa lil muttaqiina imaamaa."
Kalau kata seorang Mbak dalam sebuah lingkaran, "semuanya itu butuh proses, tidak ada yang instan, mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri dan terus berdoa (menyebutkan doa di atas)."
Nah, begitulah kira-kira tips anti galau dan anti baper ala Sarah hahaha :D selamat menunggu dan terus mempersiapkan diri! Jangan galau dan baper lagi ya! :3
Hari ini, aku pergi ke rumah dosen untuk bimbingan KTI (alias skripsi). Seperti biasa, karena rumah dosen pembimbingku lumayan jauh dan sulit ditempuh dengan angkutan umum ataupun BRT, aku naik taksi. Sejak bersahabat dengan KTI, mungkin aku cukup sering menaiki taksi berlogo burung biru ini. Namun, hari ini aku mendapatkan pelajaran kehidupan yang begitu berharga dan rasanya terlalu pelit, kalau aku tidak membagikan cerita ini kepada kalian.
Sebut saja beliau berdua yang merupakan driver taksi burung biru ini dengan Pak A dan Pak B. Pak A adalah orang yang mengantarkanku ke rumah dosen, sedangkan Pak B adalah orang yang mengantarkanku kembali ke kost.
[Cerita Pak A]
“Mau diantar kemana ya Mbak?” tanya Pak A saat aku tengah merapikan duduk sambil terengah-engah karena baru saja selesai dari tempat fotocopy. “Ke jalan (bla bla bla) ya Pak.” jawabku menerangkan tempat yang dituju. Setelah itu, keadaan kembali hening. “Kok nggak pulang Mbak? Asalnya dari mana? ” tanya Pak A. Aku pun menjawab sekenanya, “Oh iya Pak, saya ada bimbingan skripsi dengan dosen. Saya besar di Palembang, tapi ayah saya orang Medan.”
Suasana kembali hening, dan aku pun hanya melihat ke arah jendela sambil berdoa semoga saja bimbingan nanti lancar. “Wah Medan ya..., saya dulu kerja di Medan 20 tahun, Mbak.” Sontak aku pun kaget dan balik bertanya, “Hah beneran Pak? Lama juga Pak 20 tahun di Medan. Dulu kerja apa?” “Ya, serabutan sih Mbak hahaha.” jawabnya.
Lalu, pembahasan kami pun tak jauh-jauh dari durian, sifat dan watak orang Medan, dan sebagainya.
Setelah hampir sampai di rumah dosen, tiba-tiba ada kereta api yang lewat, sehingga jalan ditutup dan taksi itu pun berhenti sebentar. “Saya dulu pernah ke Seoul, Korea Selatan, Mbak. Disana ada kereta juga tapi nggak kayak kereta disini. Kereta disana itu rodanya nggak nyentuh rel, kayak ngambang, jadi nggak berisik bunyinya.” kata Pak A. Lagi-lagi aku dibuat kaget oleh beliau. Kemudian Pak A menjelaskan tentang mesin-mesin yang lebih detail dan tentu saja membuatku bingung hahaha. “Sepertinya bapak ini bukan orang sembarangan deh, terlihat dari gaya bicara dan penjelasannya.” gumamku dalam hati.
Singkat cerita, akhirnya aku sampai di rumah dosen. Dan bimbingan selama hampir 1 jam pun selesai.
[Cerita Pak B]
“Ke Tembalang ya Pak.” pintaku. “Baik, Mbak.” jawab Pak B. Untuk memecah keheningan akhirnya Pak B membuka obrolan, “Dari rumah siapa Mbak?” “Dari rumah dosen, tadi habis bimbingan skripsi, Pak.” jawabku. “Oh, udah semester akhir tho Mbak?” tanyanya. “Iya Pak, insya Allah tahun ini wisuda.” jawabku seraya mohon diaminkan.
Setelah cukup lama suasana hening, akhirnya Pak B menceritakan kalau beliau juga punya anak yang kuliah di Polines. Pak B mengeluhkan biaya kuliah yang semakin tinggi dan tidak sebanding dengan pendapatannya.
“Saya dulu sempat 16 tahun Mbak, ngajar di salah satu akademi swasta di Semarang. Tapi, sejak tahun 2006 bangunannya digusur, staff pengajar dan karyawan-karyawan disana nggak ada yang dikasih sangu sama pemiliknya.” Pak B mulai menceritakan kehidupannya. “Wah, berarti dulu Bapak dosen ya, Pak?” tanyaku antusias. “Iya Mbak, ngajar akuntansi, dulu juga saya lumayan menjabat disana.” kata Pak B menyambung ceritanya. Aku pun semakin penasaran dan bertanya, “Lho sekarang akademi itu udah nggak ada lagi, Pak?” “Masih ada Mbak, tapi sudah berubah nama dan tempatnya bukan disana lagi.” jawab Pak B.
Pak B melanjutkan lagi ceritanya, “Sejak berhenti ngajar, akhirnya saya kerja di perusahaan, Mbak. Perusahaan yang bergerak di bidang packaging.” “Maksudnya gimana tuh, Pak?” tanyaku penasaran. “Perusahaan itu mempacking barang-barang yang akan diekspor ke luar negeri.” jelas Pak B. Aku semakin penasaran, “Terus sekarang perusahaannya masih, Pak?” “Nggak Mbak, sudah gulung tikar sejak 2014. Karena waktu itu dollar melambung tinggi dan rupiah anjlok. Padahal saya dan teman-teman merintis perusahaan itu dari nol.” jawab Pak B dengan nada sedih.
“Bapak sejak kapan gabung di armada ini?” tanyaku. “Ya, mungkin udah sekitar 8-9 bulan Mbak, mau gimana lagi, butuh banyak biaya untuk anak saya kuliah dan sekolah. Alhamdulillah kemarin anak saya yang di Polines dapat beasiswa, lumayan meringankan setengah biayanya.” Pak B pun menutup obrolan.
Alhamdulillah, belajar itu bisa dimana saja dan dengan siapa saja. Hari ini, aku benar-benar bersyukur bisa mendapatkan pelajaran dan cerita berharga dari dua orang bapak yang hebat itu.
Ibarat peribahasa "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Kemudian disambung lagi dengan peribahasa "nasi telah menjadi bubur". Ya, dua peribahasa itulah yang bisa menggambarkan keadaan saat ini. Mungkin penyebabnya karena tidak mengindahkan pesan yang tersirat dari peribahasa "gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak".
Peribahasa yang menggambarkan sesuatu yang telah rusak, tidak bisa kembali lagi. Tapi itu jika dilihat dari sudut pandang biasa. Kalau kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, anggaplah nila setitik yang merusak itu sebagai penambah rasa. Jadikanlah nasi yang sudah menjadi bubur itu berasa nikmat dengan menambahkan bumbu-bumbu solutif. Lebih membangkitkan semangat, bukan?
Ingatlah kenapa dulu memilih jalan ini, berada di sini, mengemban amanah ini, bersama orang-orang ini. Perjuangkanlah apa yang masih bisa dan memang harus diperjuangkan. Mungkin yang kelihatannya seperti puing-puing ini suatu saat bisa menjadi bangunan yang indah, bukan? Hap! Bismillah.
70 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "mendesak", mengasingkan dwi tunggal negeri ini; Soekarno-Hatta. Tentunya bukan hal yang mudah menyusun secarik kertas berisi "coret-coretan" teks proklamasi tersebut. Merekalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang dari malam hingga dini hari menyatukan pikiran, gagasan, serta ide-ide mereka dalam secarik kertas itu; sementara para pemuda berjaga di luar. Tepat tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta secarik kertas yang telah diketik oleh Sayuti Melik tersebut dibacakan oleh sang proklamator.
Butuh perjuangan panjang untuk bisa memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Belum lama Belanda angkat kaki setelah 3,5 abad menjajah, datang pula Jepang yang menawarkan "janji-janji manis" terselubung yang rupa-rupanya sama saja, berniat menjajah negeri ini.
Sudah puluhan ribu nyawa melayang; mayat bergelimpangan (entah siapa) adalah pemandangan yang biasa di kala itu. Harga diri terinjak-injak pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Suara tembakan, dentuman meriam, sudah tak asing lagi terdengar di zaman itu.
Saya memang tak pernah melihat, mendengar, dan merasakan langsung kejadian kelam di masa itu. Jangan! Jangan pernah lagi masa-masa kelam itu dirasakan oleh generasi ini dan yang akan datang. Jangan sampai kita yang lemah dan tak terlatih militer ini sampai harus ikut "angkat senjata" seperti zaman itu. Jangan-jangan mereka kini lebih cerdik, menjajah secara halus, tanpa kita sadari. Entahlah. Yang jelas, saya, kamu, kalian harus bisa membalas jasa-jasa para pendahulu kita dengan "berjuang" melawan rasa malas. Berjuang untuk belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bekal kita mengabdi untuk negeri ini, sebagai dokter. Insya Allah
17 Agustus 2015 | 3 Dzulkhaidah 1436 H
Setiap orang yang pernah saya temui dan turut mewarnai hidup saya, adalah guru kehidupan bagi saya. Siapapun mereka, darimanapun mereka berasal, dan bagaimanapun karakter mereka, mereka telah mengajarkan banyak hal secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari.
Ada yang mengajarkan saya tetap tenang walaupun dirundung segudang masalah. Ada yang mengajarkan saya tetap semangat dan optimis walaupun harus berjuang berkali-kali. Ada yang mengajarkan saya untuk tetap ceria padahal sedang dilanda kesedihan. Ada pula yang mengajarkan untuk mengatur waktu sebaik mungkin, apapun kesibukanmu. Ada yang mengajarkan saya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, berapa pun rezeki yang kamu dapat. Dan yang paling penting adalah, ada yang mengingatkan untuk "jangan beribadah kepada Allah di sisa waktu, tetapi berikanlah waktu khusus untuk-Nya".
Masya Allah, mereka adalah hadiah dari Allah untuk saya. Mereka bukan sekadar "numpang lewat" di hidup saya, karena Allah menghadirkan mereka pasti punya maksud dan tujuan yang indah.
'Pengalaman' memang guru yang paling bijak, tetapi setiap orang adalah guru yang baik pula untuk orang lain, karena 'pengalaman' tanpa perantara, tidak akan bermakna.
Semarang, 8 Ramadhan 1436 H.
Inilah ayat Al-qur'an yang menuntut kita mencari ilmu dengan segala panca indera yang kita miliki. Sebuah tuntutan melakukan perjalanan ilmu dari siapa pun yang kita temui, apa pun yang kita jumpai. Karena setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasa, adalah cahaya dari-Nya.
Dan, hakikat dari sebuah perjalanan adalah taaruf. Saling mengenal antarmanusia. Bahwa kita bersaudara meski terhadang letak geografis, ruang, dan waktu. Meskipun kita terparuh-paruh dalam berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit, terpisahkan samudra, gunung, gurun, dan hutan belantara, perasaan sebagai sesama saudara Muslim tetap melekat. Kita satu keluarga.
"Iya Nak, Papa do'kan semoga selalu sehat di sana, selalu dalam lindungan Allah, kuliah lancar, ujiannya dilancarkan serta Allah memberikan pemahaman yg baik kepadamu."
Warna-Warni Kehidupan Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ways To Make Money Online | Surviving Infidelity by Blogger Templates