Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Thursday, January 31, 2019

Sumpah Dokter

Demi Allah Saya bersumpah

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan.

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai dokter.

Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien.

Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian, atau Kedudukan Sosial, dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita.

Saya akan memberikan kepada Guru-Guru saya, Penghormatan dan Pernyataan Terima Kasih yang selayaknya.

Saya akan memperlakukan Teman Sejawat saya sebagai saudara sekandung.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.

Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan Hukum Perikemanusiaan, sekalipun saya diancam.

Saya ikrarkan Sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.
                                     Semarang, 24 Januari 2019

Hari itu, kami ber-175 orang bersumpah di hadapan Allah disaksikan oleh guru-guru dan orang tua kami. Itulah janji kami untuk pasien-pasien kami kelak.
Hari itu, bertambah lagi amanah kami. Amanah yang tentunya bukan main-main. Amanah yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah di akhirat kelak.
Ya Allah mampukanlah.
Ya Allah mudahkanlah.
Ya Allah jangan jadikan diri kami sombong atas ilmu dan gelar kami.
Karena kami tahu ini hanyalah titipan-Mu.
Bantulah kami Ya Allah agar kami bisa mengemban amanah ini, menjaga titipan-Mu ini.

Monday, January 21, 2019

Merepotkan dan Direpotkan

Pernah ada yang bilang, salah satu tanda persahabatan tingkat tinggi itu "mau direpotkan dan tidak sungkan untuk merepotkan."

Beberapa waktu yang lalu, saya betul-betul menyaksikannya. Persahabatan antara dua orang laki-laki yang sudah berusia kepala 5 yang dulunya sahabat saat mahasiswa. Satunya tak sungkan-sungkan untuk meminta bantuan (yang menurut saya itu merepotkan), yang satunya lagi menerima saja tanpa merasa direpotkan. Luar biasa memang Papa dan sahabatnya itu. Masya Allah.

Semoga kelak kita dan sahabat-sahabat kita bisa seperti itu ya :")

Sunday, December 9, 2018

Teruslah...

Teruslah beramal, karena kita tidak tahu amal mana yang dapat sampai kepada Allah dan dapat menolong kita di akhirat kelak.

Teruslah berbuat baik, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan menolong kita disaat kita sedang kesulitan.

Teruslah berdoa kepada Allah, karena Allah pasti akan menjawabnya... jika tidak sekarang, maka nanti, atau Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kita.

Sunday, March 11, 2018

Coass End Stage

Sudah 9 bulan istirahat dari ngeblog. Kalau diibaratkan janin, ini sudah aterm, sebentar lagi lahir hehe.

Mudah-mudahan blogspot nggak ikut-ikutan kena blokir ya :')

Oh iya, sebentar lagi (Insya Allah 3 bulanan lagi) selesai sudah dunia percoassan yang penuh dengan cerita dan kenangan ini. Rasa-rasanya bingung, mau mulai cerita dari mana. Mungkin kalau diceritakan dari awal masuk coass sampai nanti jadi dokter, nggak cukup disini. Bahkan bisa jadi novel yang lumayan tebal!

Ternyata begini rasanya jadi coass end stage. Semangat mulai turun dan rasa jenuh kerap menghampiri. Kadang takut dan deg-degan membayangkan bagaimana nanti saat UKMPPD (singkatan dari Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter, semacam ujian nasional untuk calon dokter se-Indonesia) terlebih lagi bingung setelah lulus dokter dan selesai internship (internship = semacam praktik magang di RS dan Puskesmas, namun masih di bawah supervisi dan sudah mendapat gaji, program ini wajib sebagai syarat untuk mendapat STR yaitu Surat Tanda Registrasi agar bisa praktik) akan melanjutkan karir kemana.

Kalau kata murobbi kami, Bu A, "Sebenarnya banyak ladang kita berkarir sekaligus beramal di bidang kesehatan. Bahkan dokter itu kerja dimana pun Insya Allah bisa. Mau di desa, di antara desa-kota, ataupun di kota. Kalau bisa harus dipikirkan dan direncanakan mulai dari sekarang."

Nah, memikirkan dan merencanakannya itulah yang masih bingung. Padahal, sudah jalan stase ke-13, sisa 2 stase lagi! Kadang masih tidak percaya bisa sampai di titik ini. Padahal, jika mengingat-ingat masa preklinik (S1) dulu, rasanya ingin menyerah saja. Terutama di semester-semester awal, yang salah satu mata kuliahnya ingin membuat saya pindah jurusan!

Bismillah untuk tahap-tahap selanjutnya.. Mudah-mudahan Allah segera memberi petunjuk, kira-kira akan berkarir kemanakah diri ini~~ Aamiin..

Sunday, October 23, 2016

Awal Perjalanan Berikutnya

Dulu, empat tahun yang lalu, aku hampir putus asa karena tidak diterima di kampus yang diinginkan melalui jalur undangan (sekarang SNMPTN).

Dulu, empat tahun yang lalu, aku benar-benar kecewa tidak bisa datang mengikuti tes SBMPTN.

Dulu, empat tahun yang lalu, tak pernah sama sekali terpikirkan olehku, bahwa aku dapat menempuh studi di kampus ini.

Aku sedih, kecewa, dan marah waktu itu. Mengapa harus sesulit ini jalan yang kutempuh?

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(Q.S. Al-Baqarah : 286)

***

Alhamdulillah, akhirnya Allah menjawab doaku. Ramadhan empat tahun yang lalu, aku dinyatakan lolos seleksi melalui jalur PSSB di kampus yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Ternyata Allah punya rencana lain yang lebih indah, dan tak disangka-sangka.

"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(Q.S. Al-Baqarah: 216)

***

Alhamdulillah, dua hari lagi menjelang wisuda, satu tahap sudah terlewati. Masih ada tahap-tahap selanjutnya. Ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan berikutnya. Perjuangan belum usai. Di depan, akan lebih banyak ujian yang harus dihadapi.

"Man saara 'alad-darby washala."
(Barangsiapa berjalan pada jalannya, maka sampailah ia).



Sunday, September 25, 2016

Jangan Galau dan Baper Lagi, Ya!

Menginjak usia 20an ke atas ini, topik perbincangan yang paling sering dibahas saat kumpul-kumpul dengan teman satu angkatan tidak lain dan tidak bukan adalah masalah jodoh atau pernikahan.

Makin sering saya melihat teman-teman yang tersenyum, tersipu malu saat membahas tentang hal ini. Ada juga yang kelihatan semakin galau, semakin sering membuat status di media sosial tentang jodoh/pernikahan, eh ujung-ujungnya baper. Seolah tak sabar kapan hari bahagia itu datang.

Bagaimana dengan saya? Kalau saya sih, Alhamdulillah belum pernah posting masalah beginian di media sosial (dan baru kali ini saya posting di blog membahas ini). Karena saya juga bingung, apa yang harus digalaukan dan dibaperkan semasa kita 'menunggu'.

Ini ada sedikit tips (ala Sarah) agar kita tidak terlalu galau dan baper. Mungkin bisa dicoba :)

Pertama, jangan biarkan perasaan kita tumpah-ruah dibaca khalayak ramai di dunia maya. Curahkanlah semuanya hanya pada Allah, agar hati kita menjadi lebih tenang. Allah Maha Mengetahui segala isi hati kita, sekalipun kita tidak mampu merangkai kata-kata untuk berdoa. Karena kalau salah tempat mencurahkan (apalagi sesama teman yang baper) kan brabe.

Kedua, sibukkan diri kita dengan aktifitas positif untuk mengisi waktu luang agar tidak terlalu memikirkan hal-hal yang membuat galau dan baper.

Ketiga, kalau ada teman yang mulai memancing dengan obrolan perihal jodoh/pernikahan, jangan langsung baper. Mungkin teman kitalah sebenarnya yang baper, jangan sampai kita terbawa suasana hahaha :D Harusnya kita yang memberi masukan.

Keempat, terus perbaiki diri, terus belajar, terus persiapkan diri. Jangan sampai kita galau dan baper terus-terusan, tetapi kita tidak mau belajar ilmunya. Jangan sampai dari diri kita sendiri saja belum siap. Kalau tiba-tiba besok ada yang datang, gimana? Emang kita udah siap?

Kelima, terus berdoa kepada Allah dalam setiap sholat kita, "Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota'ayun waja'alnaa lil muttaqiina imaamaa."

Kalau kata seorang Mbak dalam sebuah lingkaran, "semuanya itu butuh proses, tidak ada yang instan, mulai dari sekarang kita mempersiapkan diri dan terus berdoa (menyebutkan doa di atas)."

Nah, begitulah kira-kira tips anti galau dan anti baper ala Sarah hahaha :D selamat menunggu dan terus mempersiapkan diri! Jangan galau dan baper lagi ya! :3

Sunday, January 24, 2016

Belajar di Taksi

Hari ini, aku pergi ke rumah dosen untuk bimbingan KTI (alias skripsi). Seperti biasa, karena rumah dosen pembimbingku lumayan jauh dan sulit ditempuh dengan angkutan umum ataupun BRT, aku naik taksi. Sejak bersahabat dengan KTI, mungkin aku cukup sering menaiki taksi berlogo burung biru ini. Namun, hari ini aku mendapatkan pelajaran kehidupan yang begitu berharga dan rasanya terlalu pelit, kalau aku tidak membagikan cerita ini kepada kalian.

Sebut saja beliau berdua yang merupakan driver taksi burung biru ini dengan Pak A dan Pak B. Pak A adalah orang yang mengantarkanku ke rumah dosen, sedangkan Pak B adalah orang yang mengantarkanku kembali ke kost.

[Cerita Pak A]

“Mau diantar kemana ya Mbak?” tanya Pak A saat aku tengah merapikan duduk sambil terengah-engah karena baru saja selesai dari tempat fotocopy. “Ke jalan (bla bla bla) ya Pak.” jawabku menerangkan tempat yang dituju. Setelah itu, keadaan kembali hening. “Kok nggak pulang Mbak? Asalnya dari mana? ” tanya Pak A. Aku pun menjawab sekenanya, “Oh iya Pak, saya ada bimbingan skripsi dengan dosen. Saya besar di Palembang, tapi ayah saya orang Medan.”

Suasana kembali hening, dan aku pun hanya melihat ke arah jendela sambil berdoa semoga saja bimbingan nanti lancar. “Wah Medan ya..., saya dulu kerja di Medan 20 tahun, Mbak.” Sontak aku pun kaget dan balik bertanya, “Hah beneran Pak? Lama juga Pak 20 tahun di Medan. Dulu kerja apa?”  “Ya, serabutan sih Mbak hahaha.” jawabnya.

Lalu, pembahasan kami pun tak jauh-jauh dari durian, sifat dan watak orang Medan, dan sebagainya.

Setelah hampir sampai di rumah dosen, tiba-tiba ada kereta api yang lewat, sehingga jalan ditutup dan taksi itu pun berhenti sebentar. “Saya dulu pernah ke Seoul, Korea Selatan, Mbak. Disana ada kereta juga tapi nggak kayak kereta disini. Kereta disana itu rodanya nggak nyentuh rel, kayak ngambang, jadi nggak berisik bunyinya.” kata Pak A. Lagi-lagi aku dibuat kaget oleh beliau. Kemudian Pak A menjelaskan tentang mesin-mesin yang lebih detail dan tentu saja membuatku bingung hahaha. “Sepertinya bapak ini bukan orang sembarangan deh, terlihat dari gaya bicara dan penjelasannya.” gumamku dalam hati.

Singkat cerita, akhirnya aku sampai di rumah dosen. Dan bimbingan selama hampir 1 jam pun selesai.

[Cerita Pak B]

“Ke Tembalang ya Pak.” pintaku. “Baik, Mbak.” jawab Pak B. Untuk memecah keheningan akhirnya Pak B membuka obrolan, “Dari rumah siapa Mbak?” “Dari rumah dosen, tadi habis bimbingan skripsi, Pak.” jawabku. “Oh, udah semester akhir tho Mbak?” tanyanya. “Iya Pak, insya Allah tahun ini wisuda.” jawabku seraya mohon diaminkan.

Setelah cukup lama suasana hening, akhirnya Pak B menceritakan kalau beliau juga punya anak yang kuliah di Polines. Pak B mengeluhkan biaya kuliah yang semakin tinggi dan tidak sebanding dengan pendapatannya.

“Saya dulu sempat 16 tahun Mbak, ngajar di salah satu akademi swasta di Semarang. Tapi, sejak tahun 2006 bangunannya digusur, staff pengajar dan karyawan-karyawan disana nggak ada yang dikasih sangu sama pemiliknya.” Pak B mulai menceritakan kehidupannya. “Wah, berarti dulu Bapak dosen ya, Pak?” tanyaku antusias. “Iya Mbak, ngajar akuntansi, dulu juga saya lumayan menjabat disana.” kata Pak B menyambung ceritanya. Aku pun semakin penasaran dan bertanya, “Lho sekarang akademi itu udah nggak ada lagi, Pak?” “Masih ada Mbak, tapi sudah berubah nama dan tempatnya bukan disana lagi.” jawab Pak B.

Pak B melanjutkan lagi ceritanya, “Sejak berhenti ngajar, akhirnya saya kerja di perusahaan, Mbak. Perusahaan yang bergerak di bidang packaging.” “Maksudnya gimana tuh, Pak?” tanyaku penasaran. “Perusahaan itu mempacking barang-barang yang akan diekspor ke luar negeri.” jelas Pak B. Aku semakin penasaran, “Terus sekarang perusahaannya masih, Pak?” “Nggak Mbak, sudah gulung tikar sejak 2014. Karena waktu itu dollar melambung tinggi dan rupiah anjlok. Padahal saya dan teman-teman merintis perusahaan itu dari nol.” jawab Pak B dengan nada sedih.

“Bapak sejak kapan gabung di armada ini?” tanyaku. “Ya, mungkin udah sekitar 8-9 bulan Mbak, mau gimana lagi, butuh banyak biaya untuk anak saya kuliah dan sekolah. Alhamdulillah kemarin anak saya yang di Polines dapat beasiswa, lumayan meringankan setengah biayanya.” Pak B pun menutup obrolan.

Alhamdulillah, belajar itu bisa dimana saja dan dengan siapa saja. Hari ini, aku benar-benar bersyukur bisa mendapatkan pelajaran dan cerita berharga dari dua orang bapak yang hebat itu.

Friday, December 11, 2015

Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin merasakan euforia kelulusan dari masa putih abu-abu.
Rasanya baru kemarin merasakan shock karena tidak lolos di PTN dan jurusan yang diinginkan.
Rasanya baru kemarin merasakan bahagianya bisa diterima di PTN dan jurusan yang sekarang.
Rasanya baru kemarin memakai seragam putih-hitam tanda masih mahasiswa baru.
Rasanya baru kemarin tertunduk segan saat lewat di depan kakak kelas.
Rasanya baru kemarin berkenalan, mendapat teman-teman dan sahabat baru dari berbagai penjuru.

Ah, waktu cepat sekali berlalu, tak terasa, sekejap saja. Ternyata, sudah 3,5 tahun aku di sini. Di PTN ini, fakultas ini, jurusan ini, bersama kalian. Selain pelajaran yang didapat dari kuliah, banyak sekali pelajaran kehidupan yang aku dapatkan dalam kurun waktu 3,5 tahun ini.

Tentang perjuangan.
Tentang pengorbanan.
Tentang kerja keras.
Tentang keikhlasan.
Tentang kepedulian.
Tentang komitmen.
Tentang keistiqomahan.
Tentang persahabatan.

Aku hampir tak percaya, sudah sampai di titik yang sejauh ini.

Ya Allah, terima kasih ternyata inilah skenario terbaik dari-Mu. Jalan terbaik yang Engkau pilihkan untuk hamba-Mu yang 3,5 tahun lalu pernah 'tidak terima' akan rencana indah-Mu.
Ya Allah, izinkanlah, ridhoilah, mudahkanlah langkah-langkah kami untuk menggapai cita dan tujuan hidup kami. Istiqomahkanlah selalu usaha kami. Kami tahu, memang tidak mudah mencapainya. Tetapi kami percaya, akan selalu ada kado terindah yang Engkau siapkan untuk kami. Insya Allah.

Monday, November 9, 2015

Disiplin Adalah Napasku

2006. Gadis kecil berambut panjang dikuncir satu bak ekor kuda yang berayun-ayun memasuki lapangan sebuah SMP. Ya, salah satu SMP favorit di kota Palembang. Senyum bahagianya terlihat mengembang, matanya berbinar-binar, sambil merapikan seragam baru kebanggannya itu. "Ya Allah, terima kasih aku telah resmi menjadi siswa SMP ini," gumamnya dalam hati.

Matanya memandang luas ke sekeliling lapangan SMP itu. Tak lama kemudian pandangannya tertuju pada papan besar bertuliskan Disiplin Adalah Napasku. Langkah kakinya yang tadi tampak lincah, terhenti sejenak. Dia mendongak, melihat papan yang letaknya dua kali lebih tinggi dari tubuhnya. "Wah, terlihat seperti slogan TNI," ucapnya.

Hari-hari berlalu, sampai suatu ketika selesai upacara bendera yang rutin dilakukan tiap hari Senin, kepala SMP menjelaskan arti dari papan bertuliskan Disiplin Adalah Napasku itu. Sejak saat itu, dia paham dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pun siswa-siswa lainnya.
Tahun demi tahun dia lewati. Sampailah di tahun 2009 yaitu tahun kelulusannya di SMP itu. Kemudian dia masuk SMA, singkat cerita dia pun lulus SMA di tahun 2012.

Tak disangka, Allah memberikan kesempatan padanya untuk mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Entah mengapa, gadis itu seperti tak ingat apa yang dulu pernah tertanam di dalam hatinya. Dia seperti lupa pernah menjadi orang yang menerapkan kalimat di papan besar itu. Kalimat yang benar-benar menghipnotisnya untuk bekerja keras, berdisplin dalam kehidupan sehari-hari, mengatur waktu sebaik mungkin.

Dan kau tahu siapakah gadis itu? Gadis itu adalah aku. Ya, aku yang dulu sangat semangat dengan kalimat Disiplin Adalah Napasku. Aku ingin memiliki semangat seperti itu lagi. Ya Allah, mampukanlah.

Wednesday, October 28, 2015

Peribahasa

Ibarat peribahasa "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Kemudian disambung lagi dengan peribahasa "nasi telah menjadi bubur". Ya, dua peribahasa itulah yang bisa menggambarkan keadaan saat ini. Mungkin penyebabnya karena tidak mengindahkan pesan yang tersirat dari peribahasa "gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak".

Peribahasa yang menggambarkan sesuatu yang telah rusak, tidak bisa kembali lagi. Tapi itu jika dilihat dari sudut pandang biasa. Kalau kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, anggaplah nila setitik yang merusak itu sebagai penambah rasa. Jadikanlah nasi yang sudah menjadi bubur itu berasa nikmat dengan menambahkan bumbu-bumbu solutif. Lebih membangkitkan semangat, bukan?

Ingatlah kenapa dulu memilih jalan ini, berada di sini, mengemban amanah ini, bersama orang-orang ini. Perjuangkanlah apa yang masih bisa dan memang harus diperjuangkan. Mungkin yang kelihatannya seperti puing-puing ini suatu saat bisa menjadi bangunan yang indah, bukan? Hap! Bismillah.

Monday, August 17, 2015

70 Tahun Indonesiaku

70 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "mendesak", mengasingkan dwi tunggal negeri ini; Soekarno-Hatta. Tentunya bukan hal yang mudah menyusun secarik kertas berisi "coret-coretan" teks proklamasi tersebut. Merekalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang dari malam hingga dini hari menyatukan pikiran, gagasan, serta ide-ide mereka dalam secarik kertas itu; sementara para pemuda berjaga di luar. Tepat tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta secarik kertas yang telah diketik oleh Sayuti Melik tersebut dibacakan oleh sang proklamator.

Butuh perjuangan panjang untuk bisa memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Belum lama Belanda angkat kaki setelah 3,5 abad menjajah, datang pula Jepang yang menawarkan "janji-janji manis" terselubung yang rupa-rupanya sama saja, berniat menjajah negeri ini.

Sudah puluhan ribu nyawa melayang; mayat bergelimpangan (entah siapa) adalah pemandangan yang biasa di kala itu. Harga diri terinjak-injak pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Suara tembakan, dentuman meriam, sudah tak asing lagi terdengar di zaman itu.

Saya memang tak pernah melihat, mendengar, dan merasakan langsung kejadian kelam di masa itu. Jangan! Jangan pernah lagi masa-masa kelam itu dirasakan oleh generasi ini dan yang akan datang. Jangan sampai kita yang lemah dan tak terlatih militer ini sampai harus ikut "angkat senjata" seperti zaman itu. Jangan-jangan mereka kini lebih cerdik, menjajah secara halus, tanpa kita sadari.  Entahlah. Yang jelas, saya, kamu, kalian harus bisa membalas jasa-jasa para pendahulu kita dengan "berjuang" melawan rasa malas.  Berjuang untuk belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bekal kita mengabdi untuk negeri ini, sebagai dokter. Insya Allah

17 Agustus 2015 | 3 Dzulkhaidah 1436 H

Thursday, June 25, 2015

Guru Kehidupan

Setiap orang yang pernah saya temui dan turut mewarnai hidup saya, adalah guru kehidupan bagi saya. Siapapun mereka, darimanapun mereka berasal, dan bagaimanapun karakter mereka, mereka telah mengajarkan banyak hal secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari.

Ada yang mengajarkan saya tetap tenang walaupun dirundung segudang masalah. Ada yang mengajarkan saya tetap semangat dan optimis walaupun harus berjuang berkali-kali. Ada yang mengajarkan saya untuk tetap ceria padahal sedang dilanda kesedihan. Ada pula yang mengajarkan untuk mengatur waktu sebaik mungkin, apapun kesibukanmu. Ada yang mengajarkan saya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, berapa pun rezeki yang kamu dapat. Dan yang paling penting adalah, ada yang mengingatkan untuk "jangan beribadah kepada Allah di sisa waktu, tetapi berikanlah waktu khusus untuk-Nya".

Masya Allah, mereka adalah hadiah dari Allah untuk saya. Mereka bukan sekadar "numpang lewat" di hidup saya, karena Allah menghadirkan mereka pasti punya maksud dan tujuan yang indah.

'Pengalaman' memang guru yang paling bijak, tetapi setiap orang adalah guru yang baik pula untuk orang lain, karena 'pengalaman' tanpa perantara, tidak akan bermakna.

Semarang, 8 Ramadhan 1436 H.

Wednesday, August 20, 2014

Petikan Novel "Berjalan di Atas Cahaya"

"Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia mengampuni kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Q.S. Al Hadid: 28)


Inilah ayat Al-qur'an yang menuntut kita mencari ilmu dengan segala panca indera yang kita miliki. Sebuah tuntutan melakukan perjalanan ilmu dari siapa pun yang kita temui, apa pun yang kita jumpai. Karena setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasa, adalah cahaya dari-Nya.
Dan, hakikat dari sebuah perjalanan adalah taaruf. Saling mengenal antarmanusia. Bahwa kita bersaudara meski terhadang letak geografis, ruang, dan waktu. Meskipun kita terparuh-paruh dalam berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit, terpisahkan samudra, gunung, gurun, dan hutan belantara, perasaan sebagai sesama saudara Muslim tetap melekat. Kita satu keluarga.

Tuesday, May 13, 2014

Konflik Batin

Sering kali terbesit pikiran, "Apa sebaiknya saya pindah jurusan saja, ya?" 
Kemudian nurani berbisik, "Jangan! Kau sudah sampai pada titik ini, semester 4, sudah separuh jalan yang kau tempuh! Lihatlah 4 semester lagi kau akan sampai di penghujung S1 Pendidikan Dokter. Apa kau lupa bagaimana perjuanganmu, usaha kerasmu yang bisa mengantarkanmu di kota Atlas ini? Apa kau lupa do'a yang orang tuamu panjatkan agar kau bisa diterima di sini? Apa kau lupa betapa bahagianya keluargamu, mendengar kabarmu diterima kuliah di sini?"

Sunday, December 22, 2013

Pemahaman yang Baik

Assalammu'alaikum Wr.Wb. sahabat blogger! :)
Wah, di Minggu pagi (hampir siang) dg cuaca mendung gini, bingung mau ngapain..
Akhirnya, aku sempatkan waktu utk ngeblog aja deh hehe :3

Hmm... cuma teringat akan do'a ayahku yg selalu beliau lontarkan jika aku mohon do'a (terutama di musim ujian ehehehe :3) Dilihat sekilas memang tampaknya do'a yg biasa, seperti diucapkan oleh orang tua kepada anaknya. Tapi, pada kata terakhir di kalimat do'a tsb, ada sesuatu yg beda. Begini.
"Iya Nak, Papa do'kan semoga selalu sehat di sana, selalu dalam lindungan Allah, kuliah lancar, ujiannya dilancarkan serta Allah memberikan pemahaman yg baik kepadamu."

Ujian Oh Ujian...

Assalammu'alaikum Wr.Wb.
Hai, sahabat blogger :) aku sudah selesai ujian Pre-Semester nih dan sedang memasuki yg katanya "minggu tenang" tapi bagiku sih ini malahan "minggu tak tenang".
Kok bisa? Iya, soalnya setelah masa minggu tenang habis, kami semua mahasiswa-mahasiswi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro Semarang (angkatan 2010, 2011, 2012 kecuali 2013 yg sdh sistem blok) akan mengikuti yg namanya UAS (Ujian Akhir Semester).

Thursday, December 19, 2013

Emas di Antara Perak atau Perak di Antara Emas?

Assalammu'alaikum Wr.Wb sahabat blogger! :)
Wah, lama yah rasanya aku nggak nulis di sini :)
Maklumlah se-abrek aktivitas kuliah, praktikum, ujian, dll nya telah menyibukkanku sehingga baru sempat nulis lagi sekarang. Walaupun, sebenernya sekarang masih dlm suasana Ujian Pre-Semester (Alhamdulillah, tinggal 1 mata kuliah lagi, habis itu minggu tenang, hehe :3)

Di tengah-tengah belajar untuk ujian pre-semester mata kuliah IKM 3 besok, tiba-tiba aku teringat nasehat guruku sewaktu SMA. Yah, beliau sering menasihati murid2nya begini.

Sunday, August 25, 2013

Yuk Berhijab Sekarang! Sebelum Dihijab dengan Kain Kafan...

Assalammu'alaikum bloggie :)

Wah, ini hari Minggu yaa :D hari ini aku lg nggak ada kegiatan nih.. Bagaimana dg mu?
Yaudah deh, daripada nggak ada kerjaan yuk blogging tulisan yg bermanfaat :)

Kalo kata bang Tere Liye, "Menulislah yg harus dibaca oleh semua orang, bukan menulis yg hanya mau dibaca orang."


Kemarin, waktu aku buka FB, nggga sengaja nemu gambar ini :

Monday, July 8, 2013

Ya, Ya Tapi Nanti, Ada Rencana Yang Lebih Baik

Assalammu'alaikum bloggie :)

Waaah nggak kerasa nih Ramadhan semakin dekat :D jadi deg-degan deh.. Wihihi xD *lebay amat yah*
Oh iya, kalian tahu kan kabarnya hari ini loh, Senin 8 Juli 2013 pengumuman hasil SBMPTN! Yah, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ehm, pastinya adek2 kelas dan teman2 yg ikut SBMPTN deg2an bukan main kan nunggu hasil pengumumannya. Mungkin udah ada aja yg langsung standby depan laptop wkwkwkwkwk xD

Saturday, June 23, 2012

Memberi Yang Tulus

Hellooooo....
Baru kemarin gak blogging :D hari nih udah blogging lagi :*

Hari ini aku bener2 dapet nasihat berharga, yg mau aku bagiin sama blogger semua :D

***

Tadi, sekitar jam setengah 8, aku dapet broadcast dari papa ku, isinya bener2 menyentuh hati, dan kok kayaknya pas banget sama keadaan aku saat ini.

***

Seorang pria yg sudah tua hendak menaiki bus. Pada saat itu ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup, dan bus mulai bergerak, sehingga ia tdk bisa memungut sepatu yg terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dg tenang melepas sepatunya yg sebelah dan melemparkannya keluar jendela.


 

Warna-Warni Kehidupan Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ways To Make Money Online | Surviving Infidelity by Blogger Templates