Thursday, September 3, 2015

Milik Bersama

Ketika dua kegiatan bertepatan di tanggal yang sama. Keduanya sama-sama penting, sama-sama hanya bisa dihadiri sekali. Yang satu kegiatan/acara terakhir di angkatan, satunya lagi acara nikah sepupu kandungmu di sebrang Pulau. Terlebih lagi, ayah dan ibumu benar-benar mengharapkan kehadiranmu. Bagaimana, kira-kira kamu pilih yang mana?

Saatnya melatih diri untuk memilih di antara pilihan tersulit, sebelum sibuk dengan skripsi, sebelum memasuki dunia coass, dimana 'pulang' adalah hal yang paling diidam-idamkan. Dimana 'bertemu keluarga' adalah hal yang paling dirindukan.

Apalagi jika kamu sudah menjadi dokter. 'Dirimu' itu bukan hanya milik Allah, orang tuamu, dan keluargamu saja, tetapi juga milik masyarakat, milik pasien-pasienmu kelak. Mungkin pada tahap ini kamu harus bisa membuat skala prioritas, membagi waktu sebaik dan seadil mungkin, agar tidak ada yang kecewa, tidak ada yang kehilangan 'dirimu'.

Hei, jangan terlalu serius membaca tulisan ini. Ini dibuat untuk mengingatkan diri sendiri yang semakin jarang pulang dan jarang menghadiri acara keluarga :")

Monday, August 17, 2015

70 Tahun Indonesiaku

70 tahun yang lalu, sekelompok pemuda "mendesak", mengasingkan dwi tunggal negeri ini; Soekarno-Hatta. Tentunya bukan hal yang mudah menyusun secarik kertas berisi "coret-coretan" teks proklamasi tersebut. Merekalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang dari malam hingga dini hari menyatukan pikiran, gagasan, serta ide-ide mereka dalam secarik kertas itu; sementara para pemuda berjaga di luar. Tepat tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta secarik kertas yang telah diketik oleh Sayuti Melik tersebut dibacakan oleh sang proklamator.

Butuh perjuangan panjang untuk bisa memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Belum lama Belanda angkat kaki setelah 3,5 abad menjajah, datang pula Jepang yang menawarkan "janji-janji manis" terselubung yang rupa-rupanya sama saja, berniat menjajah negeri ini.

Sudah puluhan ribu nyawa melayang; mayat bergelimpangan (entah siapa) adalah pemandangan yang biasa di kala itu. Harga diri terinjak-injak pun sudah menjadi makanan sehari-hari. Suara tembakan, dentuman meriam, sudah tak asing lagi terdengar di zaman itu.

Saya memang tak pernah melihat, mendengar, dan merasakan langsung kejadian kelam di masa itu. Jangan! Jangan pernah lagi masa-masa kelam itu dirasakan oleh generasi ini dan yang akan datang. Jangan sampai kita yang lemah dan tak terlatih militer ini sampai harus ikut "angkat senjata" seperti zaman itu. Jangan-jangan mereka kini lebih cerdik, menjajah secara halus, tanpa kita sadari.  Entahlah. Yang jelas, saya, kamu, kalian harus bisa membalas jasa-jasa para pendahulu kita dengan "berjuang" melawan rasa malas.  Berjuang untuk belajar dengan sungguh-sungguh sebagai bekal kita mengabdi untuk negeri ini, sebagai dokter. Insya Allah

17 Agustus 2015 | 3 Dzulkhaidah 1436 H

Thursday, June 25, 2015

Guru Kehidupan

Setiap orang yang pernah saya temui dan turut mewarnai hidup saya, adalah guru kehidupan bagi saya. Siapapun mereka, darimanapun mereka berasal, dan bagaimanapun karakter mereka, mereka telah mengajarkan banyak hal secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari.

Ada yang mengajarkan saya tetap tenang walaupun dirundung segudang masalah. Ada yang mengajarkan saya tetap semangat dan optimis walaupun harus berjuang berkali-kali. Ada yang mengajarkan saya untuk tetap ceria padahal sedang dilanda kesedihan. Ada pula yang mengajarkan untuk mengatur waktu sebaik mungkin, apapun kesibukanmu. Ada yang mengajarkan saya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah, berapa pun rezeki yang kamu dapat. Dan yang paling penting adalah, ada yang mengingatkan untuk "jangan beribadah kepada Allah di sisa waktu, tetapi berikanlah waktu khusus untuk-Nya".

Masya Allah, mereka adalah hadiah dari Allah untuk saya. Mereka bukan sekadar "numpang lewat" di hidup saya, karena Allah menghadirkan mereka pasti punya maksud dan tujuan yang indah.

'Pengalaman' memang guru yang paling bijak, tetapi setiap orang adalah guru yang baik pula untuk orang lain, karena 'pengalaman' tanpa perantara, tidak akan bermakna.

Semarang, 8 Ramadhan 1436 H.

 

Warna-Warni Kehidupan Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ways To Make Money Online | Surviving Infidelity by Blogger Templates